Setiap pagi, setelah shalat subuh, aku duduk di serambi masjid sambil membawa mushaf. Udara masih sejuk, dan suasananya sangat tenang. Saat membaca dan mengulang hafalan, aku merasa seperti sedang berbicara langsung dengan Allah. Itulah momen paling indah dalam keseharianku di pesantren.
Dari menghafal Al-Qur’an, aku belajar arti kesabaran, keikhlasan, dan ketenangan. Hafalan bukan sekadar tentang mengingat ayat, tapi tentang menjaga hati agar tetap bersih. Kini aku sadar, kenikmatan sejati bukan pada banyaknya hafalan, tetapi pada kedekatan dengan Allah melalui setiap ayat yang dijaga dalam dada.


